Welcome to this blog!

Hope you enjoy~

Thursday, 8 September 2016

Kisah Renungan : Perbedaan dan Persatuan, apakah bisa bergabung?


Orang-orang berdesak-desakan berlari menuju rumah masing-masing. Mengenakan pakaian yang serba putih, cukup sulit membedakan antar satu dan yang lain, terlebih ketika ada yang memiliki wajah yang mirip. Namun, ada seseorang yang sangat mencolok terlihat hanya berdiri diam di tempat menghadap ke arah yang berlawanan dari arah orang lain, Dengan pakaiannya yang serba merah di antara lautan putih, akan sangat mudah untuk melihatnya dengan jelas. Anak ini sering dikatai gila, aneh, bodoh, dan lain sebagainya karena hanya dialah yang menggunakan pakaian dengan warna berbeda serta satu-satunya yang menolak pakaian “persatuan” mereka yang putih suci.



Mengenai situasinya, orang-orang sedang berlari ketakutan dari kedatangan seekor monster dengan ukuran raksasa. Entah sejak kapan monster itu selalu mendatangi desa itu dan membuat kekacauan. Mereka tidak berani melawan monster tersebut karena tidak ada tentara yang bisa membela mereka. Lagipula, tampang monster itu sangat seram dan fisik kekarnya membuat tak seorang pun berani melawannya. Monster itu juga kerap mencuri anak-anak yang tidak berhati-hati dan bermain di luar saat malam. Entah apa yang terjadi pada mereka setelah itu,  yang pasti anak-anak yang telah dicuri tidak pernah kembali lagi.



Semua orang tidak berani ke luar, kecuali anak berbaju merah itu. Saat terdengar suara raungan sang mahkluk jahat, anak berbaju merah itu tenang-tenang saja dan mulai berjalan. Mahkluk itu berusaha menghantamnya dalam satu pukulan, namun serangannya selalu meleset dari sang anak. Orang-orang yang berpakaian serba putih melihatnya ramai-ramai dari balik jendela. Mereka merutuk dalam hati, “Dia memang pantas dijuluki anak gila. Mana ada orang waras yang mau ke luar disaat seekor monster berkeliaran. Terlebih tanpa senjata atau perlindungan yang pasti”



Suara-suara bisikan terdengar ramai dari rumah-rumah Namun si anak tak menghiraukannya. Dia tahu orang-orang sedang mengatainya gila, bodoh, cari mati, tidak waras, dan sebagainya. Tapi, dia sudah bertekad untuk menyelamatkan desanya dari ancaman. Dia tidak peduli mereka mau bilang apa, meski berbeda dia tetap bagian dari masyarakat. Tidak ada salahnya untuk membela bangsa meski tidak mendapatkan dukungan penuh.



Jauh dulu, sebelum dirinya dikatakan aneh, sebelum dirinya dikatakan gila, sebelum dia selalu berpakaian serba merah, sebelum gurunya meninggalkannya, anak ini adalah bagian yang sangat dikasihi oleh masyarakat di sana. Dia selalu terlihat membawa sebuah buku dan pensil ke mana pun ia pergi layaknya seorang kutu buku. Kadang ia membawa buku tambahan untuk dibacanya. Dia merupakan anak yang sangat ramah dan kerap bermain dengan anak-anak di sana. Masa depannya cerah, apalagi dia mendapatkan bimbingan khusus dari seorang guru.





Anak ini sangat membenci warna merah, terutama pada saat ia jatuh dan terkilir sehingga melukai dirinya. Ia akan merasa jijik melihat fluida merah pekat mengalir ke luar dari goresan-goresan kasar yang ditimbulkan oleh batu-batuan. Bau besi dan rasa sakit yang muncul tidak membantunya sama sekali. Warna merah itu kotor baginya. Mereka selalu menodai pakaian putihnya saat dia terluka. Dia menganggap warna merah membawa penyakit, seperti saat dia merasa sakit sekali karena jatuh.



Berbeda dengan muridnya, sang guru justru sangat menggemari warna merah. Beliau berpikir bahwa setiap warna memiliki ciri khas tersendiri, dan dia sangat menyukai ciri khas warna merah yang unik. Merah mengalir di dalam tubuh kita, mengisi lebih dari setengah komponen tubuh kita, yang memberikan kita kehidupan. Merah juga yang kemudian menutup luka yang ada agar kita tidak merusak bagian lainnya. Merah selalu digambarkan sebagai warna matahari atau api, api semangat yang berkobar-kobar memperkuat dedikasi dan harapan dalam setiap tindakan. Selain itu, merah bisa membuat berbagai jenis warna saat dicampurkan dengan warna lain. Namun, tak satu pun kombinasi warna dapat menciptakan warna merah.



Pendapat sang guru tak dihiraukan oleh sang anak. Menurutnya, kanvas putih sudah cukup indah tanpa noda, atau setidaknya tanpa dinodai warna merah. Sang guru justru selalu memasukkan semburat merah ke garis horizon yang memisahkan langit dan laut setiap kali kuas mengenai kain kanvas. Muridnya tidak terlalu peduli dengan melukis. Baginya, melukis hanyalah sebuah formalitas yang ditunjukkan orang-orang berpendidikan sebagai bukti pembelajaran mereka dalam bidang seni.  Sang guru, sebagai pelukis berbakat di desa itu, tidak setuju dengan muridnya. Menurutnya, melukis adalah penyalur pikiran dan perasaan yang dapat segera dimengerti ketika mulut tak lagi dapat berkata-kata dan telinga telah tertutup rapat.



Dalam palet warna, sang murid lebih memilih memakai 11 jenis warna tanpa memasukkan warna merah. Sedangkan sang guru tidak perlu banyak warna. Cukup warna-warni penting saja yang digunakan, sisanya cukup dicampurkan dengan warna yang ada, tentu tidak ketinggalan untuk memasukkan warna merah. Anak itu selalu mengembangkan senyum setiap kelas melukis selesai, karena dia tidak perlu mendengarkan celotehan gurunya yang mengingatkannya untuk menggunakan warna merah. Dia selalu mendapatkan nilai bagus agar tak ada tinta merah yang menodai kertasnya. Semua benda kepunyaannya diusahakan tidak ada yang warna merah, bahkan pensil warna merah sekali pun yang dipatahkannya secara sengaja agar ia punya alasan untuk tidak menggunakannya. Ya, bisa dikatakan anak ini sangat anti warna merah.



Meski sering berbeda pendapat, bahkan tak jarang mereka berdebat seharian hanya soal warna merah, gurunya sudah seperti ayahnya sendiri. Ya, sebagai seorang anak yatim piatu yang kehilangan orang tuanya karena sebuah pembunuhan acak, anak ini merasakan kehadiran figur ayah dari sang guru. Sang guru adalah seorang yang sangat bijak, dan anak ini selalu dibawanya ke perpustakaan untuk meminjam buku, serta selalu mengingatkannya bahwa buku adalah jendela ilmu dan benih solusi. Anak itu tidak mengerti maksud kalimat tersebut. Dia mengerti maksud buku adalah jendela ilmu tapi dia tidak pernah mengerti maksud dari ‘benih solusi’. Sang guru hanya akan tertawa dan menyuruhnya untuk terus membaca karena ia akan mengerti setelah dia selesai membaca. Namun, anak itu tetap tak kunjung mengerti. Hal yang sama terus terulang pada kesempatan-kesempatan lainnya.



Setiap tahun, sang guru akan memberikan baju baru berwarna merah untuk sang anak yang tak pernah dipakainya karena kebenciannya terhadap warna merah. Saat ulang tahun pun sang guru hanya akan mengajaknya makan lalu melukis bersama di tepi pantai serta memberikannya sebuah buku baru untuk dibaca. Kebiasaan ini tak pernah berubah, namun setiap tahunnya menyimpan kisah berbeda yang mustahil untuk dilupakan. Contohnya ketika dia berumur 10 tahun di mana sang guru mencoba untuk membuat masakan sendiri yang pada akhirnya hanya dicicipi sedikit karena rasa asin yang begitu banyak dan bau gosong yang menyengat. Mereka akhirnya memesan makanan di kedai favorit sambil melukis langit malam di tepi pantai.



Hingga suatu hari sang guru tidak hadir dalam pertemuan mereka. Anak itu terus menunggu di tempat yang dijanjikan selama sepanjang hari. Ketika malam tiba, anak itu bangkit dari tempatnya dan berjalan pergi. Dipenuhi firasat buruk ia pun pergi ke rumah gurunya dan menemukan gurunya terjatuh di lantai dengan fluida merah mengotori lantai di bawahnya. Ruangan itu sangat berantakan. Meja dan kursi terlihat patah dan hancir di satu sudut, dan di sudut lain banyak kaleng pewarna berserakan, serta sebuah kanvas besar yang telah jatuh dari singgasananya. Menyadari kehadiran muridnya, sang guru hanya tersenyum lemah seraya berusaha untuk berdiri tegak namun harus terjatuh tersungkur karena kakinya tak kuat menanggung beban tubuhnya lagi. Belia hanya menggerakkan jari telunjuk ke depan dan belakang mengisyaratkan anak itu untuk mendekatinya. Berjalan dengan hati-hati sambil menghindari cairan kotor tersebut mendekati sang guru. Menunjuk ke arah fluida yang telah meresap ke dalam kayu tua, sang guru berkata,

 “Kau lihat itu? Badan ini sudah tidak cocok untuk cairan merah ini. Api semangat hidup dalam diriku akan segera dipadamkan, dan aku ingin kau meneruskannya. Percayalah padaku untuk kali ini saja, bahwa merah adalah warna yang indah. Merah akan membawakan keberuntungan bagimu serta menjadi perisai baja yang paling kuat. Merah  membangkitkan gelora semangat hidupmu. Merah yang kau lihat ini, aku yakin kamu akan tumbuh menjadi seorang pahlawan yang api semangatnya tak akan pernah padam sampai Tuhan memanggil api itu kembali.”



Menarik nafas sejenak, sang guru melanjutkan, “Menjadi berbeda tak selamanya buruk. Merah terlihat berbeda bagiku, dan itu bagus. Merah termasuk warna unik yang selalu berusaha mengalahkan api lain, dan aku akan selalu ingat warna merah di garis horizon tersebut. Ya, aku berharap kau akan menambahkannya saat kau melukis lagi, yang sekali lagi bukanlah sebuah formalitas mengikuti kelas seni. Saya masih punya banyak sebagai tambahan cat untuk seni melukis. Pulanglah, hari sudah gelap dan jangan pernah melupakan ajaran-ajaranku. Dengan sisa tenaga yang ada, sang guru membelai kepala anak tersebut dan menyerahkan kepadanya sebuah buku baru yang harusnya ia berikan kepada anak itu hari ini.



Sang anak, masih bingung dengan apa yang dibicarakan gurunya, mengambil buku tersebut dengan ragu dari tangan sang guru. Tangan sang guru terkulai lemah di sisinya dan matanya pun terpejam. Anak itu tersentak kaget saat sang guru tiba-tiba saja tertidur. Matanya terbuka sangat lebar dan ia melangkah mundur dengan gemetaran saat matanya bertemu dengan fluida merah yang menodai bajunya di bagian belakang telah mengalir banyak. Sang guru tampaknya telah ditusuk oleh seseorang dari belakang sesaat sebelum anak itu datang. Cairan bening mulai terkumpul di matanya. Tak mampu membendung, mereka jatuh perlahan, mengalir di pipi sang anak diiringi isakan-isakan kecil.



Ya, api tersebut telah padam. Angin tak lagi berhembus ke luar dari hidung sang guru. Hanya tersisa raga yang dingin, tertutupi kain putih yang ternodai dengan cairan terkutuk tersebut. Warna cairan itu ingin membuatnya segera lari. Warna yang telah merusak masa kecilnya, warna yang telah merenggut nyawa kedua orangtuanya dulu, warna yang kini telah merenggut satu-satunya yang masih dimilikinya, adalah warna yang sangat dibencinya.



Merah.





Setelah yakin bahwa monster itu akan berupaya untuk membunuhnya, ia segera berlari ke arah Selatan. Kaki jenjangnya terus berlari tak menghiraukan batu-batuan yang dapat melukainya. Baju merahnya mengikuti hembusan angin yang berlawanan. Nafasnya sudah mulai terengah-engah, namun ia tetap melanjutkan. Sang monster tetap berlari, melewati semak-semak belukar yang dipenuhi duri. Luka-luka tampak menghiasi kaki monster itu, namun seakan tak merasakan apa pun monster itu tetap mengejar anak tersebut. Batu-batuan bukanlah masalah bagi raksasa berkaki empat itu. Kakinya yang sekuat kuda tidak dapat dilukai oleh batu-batuan kecil. Kulit ular yang menutupi tubuhnya memberikan kesan ‘berzirah’ keemasan. Matanya yang setajam elang tertuju hanya pada anak berbaju merah tersebut, atau lebih tepatnya, kain merah yang dikenakan anak itu. Bagaikan seekor banteng dalam pertandingan matador, monster itu semakin terpacu untuk mengejar sang anak.



Kaki anak itu berhenti di garis pasang surut air laut. Terbesit keraguan di mata anak tersebut. Nafasnya masih tersengal-sengal setelah berlari cukup jauh. Dia memandang sejenak melihat ke belakang, monster itu tak lama lagi akan memerkamnya. Di hatinya sebenarnya ia bimbang, apakah rencananya berhasil sesuai perkiraan? Atau akan sia-sia saja? Terbesit dalam benaknya rasa siap untuk dijemput ajal, namun dia buang jauh-jauh pikiran itu dan kembali fokus pada misinya.



Setelah nafasnya mulai teratur, dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ajaran sang guru tidak akan pernah sia-sia. Mengambil nafas cukup dalam, sang anak melompat dan menyelam ke laut lepas.



Tangannya mendorongnya semakin ke bawah, dibantu dengan kakinya. Perih menyengat kakinya ketika luka kecil bergesekan dengan air asin tersebut. Matanya sangat sakit, dan ia yakan matanya akan sangat merah nantinya. Tapi, dia tidak boleh menyerah sekarang. Mau tidak mau memang ada pengorbanan yang harus dibayar demi sebuah kebaikan.



Saat nafasnya sudah mulai habis, terdengar suara seperti batu besar diceburkan ke dalam laut dan sebuah erangan yang sangat mengerikan. Sebuah kurva kecil terbentuk di bibirnya dan dengan sisa tenaga yang ada, anak itu berenang ke permukaan. Ia terus mendorong dengan kakinya menuju ke atas, yakin apinya masih belum saatnya untuk padam, dan dia hanya perlu memadamkan milik sang monster.



Menoleh sedikit, ia melihat monster tersebut meronta karena garam yang menyengat luka dikakinya serta kulit berlendir yang tak lagi tertutup zirah emas. Anak itu sebelumnya berlari melewati sebuah celah yang cukup tajam dan sempit untuk monster itu sehingga sisik-sisik tebalnya lepas. Terjebak kebodohannya sendiri, monster itu memutuskan jalan hidupnya sendiri saat dia tidak bisa naik ke permukaan untuk mendapatkan oksigen yang ada. Tubuhnya tampak sangat kesakitan yang membuatnya lupa bahwa dirinya telah dijemput sang malaikat maut. Bahwa dirinya tertipu oleh nalurinya sendiri, yang selalu mengikuti apa pun yang berwarna merah, namun tak akan pernah bisa meraih atau menyentuhnya.



Monster itu akhirnya berhenti memberontak dan terkulai lemas, terdorong tekanan air untuk semakin ke bawah hingga tak terlihat lagi. Monster itu telah dihapuskan dari penyebab teror di lingkungannya, yang selamat karena perbedaan anak itu. Anak itu pun mendorong dirinya ke atas permukaan dan menghirup udara yang menjadi pasokan hidupnya. Menatap ke arah horizon, matahari sudah setengah tenggelam dengan langit bewarna kuning kejinggaan yang dihiasi semburat merah dan seditit warna violet dan biru di ujungnya.



Tersenyum bangga, anak itu teringat momen saat dai membaca buku-buku yang telah diberikan gurunya.Banyak sekali binatang yang mematikan dan jauh lebih kuat daripada manusia yang menjadikan manusia terancam menjadi santapan malam. Namun, manusia memiliki keunggulan untuk memiliki kecerdasan lebih. Jika dirinya sendiri tidak bisa, maka dia akan memanfaatkan apa yang dia dan lawannya miliki. Daging akan perih rasanya saat diberikan garam dan dapat membunuh hewan yang berlendir. Sepertinyta buku sebagai benih solusi telah mengantarkannya menjadi pahlawan yang dijanjikan gurunya. Terserah dengan kata-kata menyakitkan yang pernah dilontarkan kepadanya hanya karena dia tidak sama dengan mereka. Dia yang dulu adalah yang dulu, dan dia yang sekarang harus fokus kepada yang sekarang. Meski harus dikeluarkan dari lingkungan yang ‘satu’, api semangatnya tidak akan pernah redup, dan akan dia pertahankan hingga akhir hayat.



Semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, memiliki arti ‘berbeda-beda tetapi tetap satu’. Menjadi berbeda tidak selamanya buruk. Jika kamu harus menjadi beda untuk menjadi pahlawan yang baik, bukankah itu lebih baik?





Halo semuanya! Ketemu lagi nih dengan sebuah postingan baru. Maaf ya kalau jelek, baru pertama kali bikin yang ginian soalnya. Bahasanya juga mungkin ada yang aneh, salah, atau kurang pas tapi yang penting dapat lah intinya. Kayaknya kepanjangan deh untuk sebuah cerita yang gak jelas ( “^_^)



Sebenarnya postingan ini terbentuk murni tanpa perencanaan. Awalnya gak ada niat buat tulis dan post cerita kayak gini, Cuma ya gak sengaja aja.



Awalnya terbentuk pada saat saya dan teman-teman chat di sosmed. Teman saya bingung mau post apa di blognya, jadi dia minta inspirasi. Lalu katanya setelah nonton satu video dia dapat ide tentang perbedaan. Dia minta kami sebutin warna favorit (yang kemudian jadi warna baju yang dipakai para karakter). Harusnya ada 4 orang yang chat, tapi karena si D ntah sibuk apa jadi hanya tersisa A (yang minta saran), B, dan C (saya sendiri). Beginilah kira-kira isi percakapan kami:



B: Eeeyyyyy ;)

A: hey

C: Yo

A: Kalian tugas blog bikin postingan apa?

A: Aku gak ada ide nih

B: Puisi aja

C: Aku juga gak ada ide, jadi aku post puisi yang aku buatin untuk surprise bday D

A: Kalo puisi mah aku yang geli sendiri XD

C: Kalo bikin cerita nanti kalo membosankan kan sayang

A: lagi coba-coba bikin cerpennya nih





Kemudian dia mengirimkan foto ketikannya. Awalnya sedikit aneh karena ceritanya seperti sedikit dipaksakan. Lalu dia mengganti dengan paragraf pertama ini setelah menanyakan soal warna-warna pilihan.



C: Udah bagus kok

C: Kemudian monsternya boom mendarat di genteng?

B: Wuisshh ceritanya

A: haha…ya gak la





Lalu sejak komentar tentang monster itula saya mulai terus mengetik di group chat itu. Meski jam sudah menunjukkan pukul 11 dan saya ingin tidur, namun tangan saya tidak bisa berhenti mengetik meski pun otak tidak dapat berpikir dengan lancar. Teman-teman saya mengatakan mereka sangat menyukai kalimat-kalimat saya yang memiliki makna yang dalam (padahal saya sendiri hanya mengetik asal karena tangan saya tidak bisa berhenti sebelum ceritanya saya akhiri). Entah bagaimana caranya akhirnya saya dapat menyelesaikannya malam itu juga dan kemudian memindahkannya ke dalam notes.



Saya merasa bahwa saya dapat membagikan pemikiran saya melalui tulisan ini. Tapi saya ragu, apakah ada orang yang mau membacanya? Bukankah mereka akan bosan duluan sebelum selesai membaca? Apakah mereka dapat memahami apa yang ingin saya sampaikan? Saat itu saya masih memindahkan apa yang saya catat ke dalam komputer saya. Karena teman saya bilang untuk di-post saja, saya pikir saya bisa coba-coba dan melihat postingan apa yang paling cocok untuk blog saya.



Soal garam, kalau terluka bisa sembuh pake garam juga loh, tapi harus tahan perihnya. Binatang yang kulitnya berlendir seperti cacing juga memang bisa mati karena garam. Garam mengganggu sistem pernafasan mereka yang menggunakan kulit. Info lengkap bisa cek di sini dan di sini



Tulisan ini murni hasil pemikiran saya (dengan asal muasal karena adanya kegiatan membuat cerpen oleh teman saya), dan jika ingin berbagi silahkan tapi tolong berikan kredit. Saya tidak mengubah apa-apa dari yang saya ketik di HP (kecuali beberapa typo dan kalimat yang tidak diperlukan) sehingga sedikit aneh. Mohon maaf jika ada kesalahan kata dan lain-lain. Sebagai bonus, saya bagikan apa yang saya tuliskan sebelum saya menulis bagian aslinya saat berada di group chat.





….. Hingga suatu hari sang guru tidak hadir dalam pertemuan mereka. Anak itu terus menunggu di tempat yang dijanjikan selama sepanjang hari. Ketika malam tiba, anak itu bangkit dari tempatnya dan berjalan pergi. Dipenuhi firasat buruk ia pun pergi ke rumah gurunya dan menemukan gurunya terjatuh di lantai dengan fluida merah mengotori lantai di bawahnya. Ruangan itu sangat berantakan. Meja dan kursi terlihat patah dan hancir di satu sudut, dan di sudut lain banyak kaleng pewarna berserakan, serta sebuah kanvas besar yang telah jatuh dari singgasananya. Sang anak mundur beberapa langkah terkejut melihat keadaan sang guru yang lemah. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi di sini. Setelah rasa panik berlalu, anak itu pun merasa sangat jengkel. Ya, sang guru hanya nyengir kuda dan mengangkat kuas di tangannya seraya menunjuk ke arah sekaleng cat Nippon Paint warna merah yang telah dibuka secara paksa.





Gak penting sih tapi temanku bilang masukin aja. Sekian dulu ya untuk hari ini, jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar ya!



O ya, kunjungi juga blog teman-teman saya yang pastinya diisi dengan postingan unik, menarik, dan bermanfaat:





Sampai jumpa!





No comments:

Post a Comment

Inuyasha's Sword Tetsaiga