Orang-orang
berdesak-desakan berlari menuju rumah masing-masing. Mengenakan pakaian yang
serba putih, cukup sulit membedakan antar satu dan yang lain, terlebih ketika
ada yang memiliki wajah yang mirip. Namun, ada seseorang yang sangat mencolok
terlihat hanya berdiri diam di tempat menghadap ke arah yang berlawanan dari
arah orang lain, Dengan pakaiannya yang serba merah di antara lautan putih,
akan sangat mudah untuk melihatnya dengan jelas. Anak ini sering dikatai gila,
aneh, bodoh, dan lain sebagainya karena hanya dialah yang menggunakan pakaian
dengan warna berbeda serta satu-satunya yang menolak pakaian “persatuan” mereka
yang putih suci.
Mengenai
situasinya, orang-orang sedang berlari ketakutan dari kedatangan seekor monster
dengan ukuran raksasa. Entah sejak kapan monster itu selalu mendatangi desa itu
dan membuat kekacauan. Mereka tidak berani melawan monster tersebut karena
tidak ada tentara yang bisa membela mereka. Lagipula, tampang monster itu
sangat seram dan fisik kekarnya membuat tak seorang pun berani melawannya.
Monster itu juga kerap mencuri anak-anak yang tidak berhati-hati dan bermain di
luar saat malam. Entah apa yang terjadi pada mereka setelah itu, yang pasti anak-anak yang telah dicuri tidak
pernah kembali lagi.
Semua
orang tidak berani ke luar, kecuali anak berbaju merah itu. Saat terdengar
suara raungan sang mahkluk jahat, anak berbaju merah itu tenang-tenang saja dan
mulai berjalan. Mahkluk itu berusaha menghantamnya dalam satu pukulan, namun
serangannya selalu meleset dari sang anak. Orang-orang yang berpakaian serba
putih melihatnya ramai-ramai dari balik jendela. Mereka merutuk dalam hati,
“Dia memang pantas dijuluki anak gila. Mana ada orang waras yang mau ke luar
disaat seekor monster berkeliaran. Terlebih tanpa senjata atau perlindungan
yang pasti”
Suara-suara
bisikan terdengar ramai dari rumah-rumah Namun si anak tak menghiraukannya. Dia
tahu orang-orang sedang mengatainya gila, bodoh, cari mati, tidak waras, dan
sebagainya. Tapi, dia sudah bertekad untuk menyelamatkan desanya dari ancaman.
Dia tidak peduli mereka mau bilang apa, meski berbeda dia tetap bagian dari
masyarakat. Tidak ada salahnya untuk membela bangsa meski tidak mendapatkan dukungan
penuh.
Jauh
dulu, sebelum dirinya dikatakan aneh, sebelum dirinya dikatakan gila, sebelum
dia selalu berpakaian serba merah, sebelum gurunya meninggalkannya, anak ini
adalah bagian yang sangat dikasihi oleh masyarakat di sana. Dia selalu terlihat
membawa sebuah buku dan pensil ke mana pun ia pergi layaknya seorang kutu buku.
Kadang ia membawa buku tambahan untuk dibacanya. Dia merupakan anak yang sangat
ramah dan kerap bermain dengan anak-anak di sana. Masa depannya cerah, apalagi
dia mendapatkan bimbingan khusus dari seorang guru.
Anak
ini sangat membenci warna merah, terutama pada saat ia jatuh dan terkilir
sehingga melukai dirinya. Ia akan merasa jijik melihat fluida merah pekat
mengalir ke luar dari goresan-goresan kasar yang ditimbulkan oleh batu-batuan.
Bau besi dan rasa sakit yang muncul tidak membantunya sama sekali. Warna merah
itu kotor baginya. Mereka selalu menodai pakaian putihnya saat dia terluka. Dia
menganggap warna merah membawa penyakit, seperti saat dia merasa sakit sekali
karena jatuh.
Berbeda
dengan muridnya, sang guru justru sangat menggemari warna merah. Beliau
berpikir bahwa setiap warna memiliki ciri khas tersendiri, dan dia sangat
menyukai ciri khas warna merah yang unik. Merah mengalir di dalam tubuh kita,
mengisi lebih dari setengah komponen tubuh kita, yang memberikan kita
kehidupan. Merah juga yang kemudian menutup luka yang ada agar kita tidak
merusak bagian lainnya. Merah selalu digambarkan sebagai warna matahari atau
api, api semangat yang berkobar-kobar memperkuat dedikasi dan harapan dalam
setiap tindakan. Selain itu, merah bisa membuat berbagai jenis warna saat
dicampurkan dengan warna lain. Namun, tak satu pun kombinasi warna dapat
menciptakan warna merah.
Pendapat
sang guru tak dihiraukan oleh sang anak. Menurutnya, kanvas putih sudah cukup
indah tanpa noda, atau setidaknya tanpa dinodai warna merah. Sang guru justru
selalu memasukkan semburat merah ke garis horizon yang memisahkan langit dan
laut setiap kali kuas mengenai kain kanvas. Muridnya tidak terlalu peduli dengan
melukis. Baginya, melukis hanyalah sebuah formalitas yang ditunjukkan
orang-orang berpendidikan sebagai bukti pembelajaran mereka dalam bidang seni. Sang guru, sebagai pelukis berbakat di desa
itu, tidak setuju dengan muridnya. Menurutnya, melukis adalah penyalur pikiran
dan perasaan yang dapat segera dimengerti ketika mulut tak lagi dapat
berkata-kata dan telinga telah tertutup rapat.
Dalam
palet warna, sang murid lebih memilih memakai 11 jenis warna tanpa memasukkan
warna merah. Sedangkan sang guru tidak perlu banyak warna. Cukup warna-warni
penting saja yang digunakan, sisanya cukup dicampurkan dengan warna yang ada,
tentu tidak ketinggalan untuk memasukkan warna merah. Anak itu selalu
mengembangkan senyum setiap kelas melukis selesai, karena dia tidak perlu
mendengarkan celotehan gurunya yang mengingatkannya untuk menggunakan warna
merah. Dia selalu mendapatkan nilai bagus agar tak ada tinta merah yang menodai
kertasnya. Semua benda kepunyaannya diusahakan tidak ada yang warna merah,
bahkan pensil warna merah sekali pun yang dipatahkannya secara sengaja agar ia
punya alasan untuk tidak menggunakannya. Ya, bisa dikatakan anak ini sangat
anti warna merah.
Meski
sering berbeda pendapat, bahkan tak jarang mereka berdebat seharian hanya soal
warna merah, gurunya sudah seperti ayahnya sendiri. Ya, sebagai seorang anak
yatim piatu yang kehilangan orang tuanya karena sebuah pembunuhan acak, anak
ini merasakan kehadiran figur ayah dari sang guru. Sang guru adalah seorang
yang sangat bijak, dan anak ini selalu dibawanya ke perpustakaan untuk meminjam
buku, serta selalu mengingatkannya bahwa buku adalah jendela ilmu dan benih
solusi. Anak itu tidak mengerti maksud kalimat tersebut. Dia mengerti maksud
buku adalah jendela ilmu tapi dia tidak pernah mengerti maksud dari ‘benih
solusi’. Sang guru hanya akan tertawa dan menyuruhnya untuk terus membaca
karena ia akan mengerti setelah dia selesai membaca. Namun, anak itu tetap tak
kunjung mengerti. Hal yang sama terus terulang pada kesempatan-kesempatan
lainnya.
Setiap
tahun, sang guru akan memberikan baju baru berwarna merah untuk sang anak yang
tak pernah dipakainya karena kebenciannya terhadap warna merah. Saat ulang
tahun pun sang guru hanya akan mengajaknya makan lalu melukis bersama di tepi
pantai serta memberikannya sebuah buku baru untuk dibaca. Kebiasaan ini tak
pernah berubah, namun setiap tahunnya menyimpan kisah berbeda yang mustahil
untuk dilupakan. Contohnya ketika dia berumur 10 tahun di mana sang guru
mencoba untuk membuat masakan sendiri yang pada akhirnya hanya dicicipi sedikit
karena rasa asin yang begitu banyak dan bau gosong yang menyengat. Mereka
akhirnya memesan makanan di kedai favorit sambil melukis langit malam di tepi
pantai.
Hingga
suatu hari sang guru tidak hadir dalam pertemuan mereka. Anak itu terus
menunggu di tempat yang dijanjikan selama sepanjang hari. Ketika malam tiba,
anak itu bangkit dari tempatnya dan berjalan pergi. Dipenuhi firasat buruk ia
pun pergi ke rumah gurunya dan menemukan gurunya terjatuh di lantai dengan
fluida merah mengotori lantai di bawahnya. Ruangan itu sangat berantakan. Meja
dan kursi terlihat patah dan hancir di satu sudut, dan di sudut lain banyak
kaleng pewarna berserakan, serta sebuah kanvas besar yang telah jatuh dari
singgasananya. Menyadari kehadiran muridnya, sang guru hanya tersenyum lemah
seraya berusaha untuk berdiri tegak namun harus terjatuh tersungkur karena
kakinya tak kuat menanggung beban tubuhnya lagi. Belia hanya menggerakkan jari
telunjuk ke depan dan belakang mengisyaratkan anak itu untuk mendekatinya.
Berjalan dengan hati-hati sambil menghindari cairan kotor tersebut mendekati
sang guru. Menunjuk ke arah fluida yang telah meresap ke dalam kayu tua, sang
guru berkata,
“Kau lihat itu? Badan ini sudah tidak cocok
untuk cairan merah ini. Api semangat hidup dalam diriku akan segera dipadamkan,
dan aku ingin kau meneruskannya. Percayalah padaku untuk kali ini saja, bahwa
merah adalah warna yang indah. Merah akan membawakan keberuntungan bagimu serta
menjadi perisai baja yang paling kuat. Merah
membangkitkan gelora semangat hidupmu. Merah yang kau lihat ini, aku
yakin kamu akan tumbuh menjadi seorang pahlawan yang api semangatnya tak akan
pernah padam sampai Tuhan memanggil api itu kembali.”
Menarik
nafas sejenak, sang guru melanjutkan, “Menjadi berbeda tak selamanya buruk.
Merah terlihat berbeda bagiku, dan itu bagus. Merah termasuk warna unik yang
selalu berusaha mengalahkan api lain, dan aku akan selalu ingat warna merah di
garis horizon tersebut. Ya, aku berharap kau akan menambahkannya saat kau
melukis lagi, yang sekali lagi bukanlah sebuah formalitas mengikuti kelas seni.
Saya masih punya banyak sebagai tambahan cat untuk seni melukis. Pulanglah,
hari sudah gelap dan jangan pernah melupakan ajaran-ajaranku. Dengan sisa
tenaga yang ada, sang guru membelai kepala anak tersebut dan menyerahkan
kepadanya sebuah buku baru
yang harusnya ia berikan kepada anak itu hari ini.
Sang anak, masih bingung dengan apa yang dibicarakan
gurunya, mengambil buku tersebut dengan ragu dari tangan sang guru. Tangan sang
guru terkulai lemah di sisinya dan matanya pun terpejam. Anak itu tersentak
kaget saat sang guru tiba-tiba saja tertidur. Matanya terbuka sangat lebar dan
ia melangkah mundur dengan gemetaran saat matanya bertemu dengan fluida merah
yang menodai bajunya di bagian belakang telah mengalir banyak. Sang guru
tampaknya telah ditusuk oleh seseorang dari belakang sesaat sebelum anak itu
datang. Cairan bening mulai terkumpul di matanya. Tak mampu membendung, mereka
jatuh perlahan, mengalir di pipi sang anak diiringi isakan-isakan kecil.
Ya, api tersebut telah padam. Angin tak lagi berhembus ke
luar dari hidung sang guru. Hanya tersisa raga yang dingin, tertutupi kain
putih yang ternodai dengan cairan terkutuk tersebut. Warna cairan itu ingin
membuatnya segera lari. Warna yang telah merusak masa kecilnya, warna yang
telah merenggut nyawa kedua orangtuanya dulu, warna yang kini telah merenggut
satu-satunya yang masih dimilikinya, adalah warna yang sangat dibencinya.
Merah.
Setelah yakin bahwa monster itu akan berupaya untuk
membunuhnya, ia segera berlari ke arah Selatan. Kaki jenjangnya terus berlari
tak menghiraukan batu-batuan yang dapat melukainya. Baju merahnya mengikuti
hembusan angin yang berlawanan. Nafasnya sudah mulai terengah-engah, namun ia
tetap melanjutkan. Sang monster tetap berlari, melewati semak-semak belukar
yang dipenuhi duri. Luka-luka tampak menghiasi kaki monster itu, namun seakan
tak merasakan apa pun monster itu tetap mengejar anak tersebut. Batu-batuan
bukanlah masalah bagi raksasa berkaki empat itu. Kakinya yang sekuat kuda tidak dapat dilukai oleh batu-batuan kecil. Kulit
ular yang menutupi tubuhnya memberikan kesan ‘berzirah’ keemasan. Matanya yang
setajam elang tertuju hanya pada anak berbaju merah tersebut, atau lebih tepatnya,
kain merah yang dikenakan anak itu. Bagaikan seekor banteng dalam pertandingan
matador, monster itu semakin terpacu untuk mengejar sang anak.
Kaki
anak itu berhenti di garis pasang surut air laut. Terbesit keraguan di mata
anak tersebut. Nafasnya masih tersengal-sengal setelah berlari cukup jauh. Dia
memandang sejenak melihat ke belakang, monster itu tak lama lagi akan
memerkamnya. Di hatinya sebenarnya ia bimbang, apakah rencananya berhasil
sesuai perkiraan? Atau akan sia-sia saja? Terbesit dalam benaknya rasa siap
untuk dijemput ajal, namun dia buang jauh-jauh pikiran itu dan kembali fokus
pada misinya.
Setelah
nafasnya mulai teratur, dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ajaran sang guru
tidak akan pernah sia-sia. Mengambil nafas cukup dalam, sang anak melompat dan
menyelam ke laut lepas.
Tangannya
mendorongnya semakin ke bawah, dibantu dengan kakinya. Perih menyengat kakinya
ketika luka kecil bergesekan dengan air asin tersebut. Matanya sangat sakit,
dan ia yakan matanya akan sangat merah nantinya. Tapi, dia tidak boleh menyerah
sekarang. Mau tidak mau memang ada pengorbanan yang harus dibayar demi sebuah
kebaikan.
Saat
nafasnya sudah mulai habis, terdengar suara seperti batu besar diceburkan ke
dalam laut dan sebuah erangan yang sangat mengerikan. Sebuah kurva kecil
terbentuk di bibirnya dan dengan sisa tenaga yang ada, anak itu berenang ke
permukaan. Ia terus mendorong dengan kakinya menuju ke atas, yakin apinya masih
belum saatnya untuk padam, dan dia hanya perlu memadamkan milik sang monster.
Menoleh
sedikit, ia melihat monster tersebut meronta karena garam yang menyengat luka
dikakinya serta kulit berlendir yang tak lagi tertutup zirah emas. Anak itu
sebelumnya berlari melewati sebuah celah yang cukup tajam dan sempit untuk
monster itu sehingga sisik-sisik tebalnya lepas. Terjebak kebodohannya sendiri,
monster itu memutuskan jalan hidupnya sendiri saat dia tidak bisa naik ke
permukaan untuk mendapatkan oksigen yang ada. Tubuhnya tampak sangat kesakitan yang
membuatnya lupa bahwa dirinya telah dijemput sang malaikat maut. Bahwa dirinya
tertipu oleh nalurinya sendiri, yang selalu mengikuti apa pun yang berwarna
merah, namun tak akan pernah bisa meraih atau menyentuhnya.
Monster
itu akhirnya berhenti memberontak dan terkulai lemas, terdorong tekanan air
untuk semakin ke bawah hingga tak terlihat lagi. Monster itu telah dihapuskan
dari penyebab teror di lingkungannya, yang selamat karena perbedaan anak itu.
Anak itu pun mendorong dirinya ke atas permukaan dan menghirup udara yang
menjadi pasokan hidupnya. Menatap ke arah horizon, matahari sudah setengah
tenggelam dengan langit bewarna kuning kejinggaan yang dihiasi semburat merah
dan seditit warna violet dan biru di ujungnya.
Tersenyum
bangga, anak itu teringat momen saat dai membaca buku-buku yang telah diberikan
gurunya.Banyak sekali binatang yang mematikan dan jauh lebih kuat daripada
manusia yang menjadikan manusia terancam menjadi santapan malam. Namun, manusia
memiliki keunggulan untuk memiliki kecerdasan lebih. Jika dirinya sendiri tidak
bisa, maka dia akan memanfaatkan apa yang dia dan lawannya miliki. Daging akan
perih rasanya saat diberikan garam dan dapat membunuh hewan yang berlendir.
Sepertinyta buku sebagai benih solusi telah mengantarkannya menjadi pahlawan
yang dijanjikan gurunya. Terserah dengan kata-kata menyakitkan yang pernah
dilontarkan kepadanya hanya karena dia tidak sama dengan mereka. Dia yang dulu
adalah yang dulu, dan dia yang sekarang harus fokus kepada yang sekarang. Meski
harus dikeluarkan dari lingkungan yang ‘satu’, api semangatnya tidak akan
pernah redup, dan akan dia pertahankan hingga akhir hayat.
Semboyan
bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, memiliki arti ‘berbeda-beda tetapi
tetap satu’. Menjadi berbeda tidak selamanya buruk. Jika kamu harus menjadi
beda untuk menjadi pahlawan yang baik, bukankah itu lebih baik?
Halo
semuanya! Ketemu lagi nih dengan sebuah postingan baru. Maaf ya kalau jelek,
baru pertama kali bikin yang ginian soalnya. Bahasanya juga mungkin ada yang
aneh, salah, atau kurang pas tapi yang penting dapat lah intinya. Kayaknya
kepanjangan deh untuk sebuah cerita yang gak jelas ( “^_^)
Sebenarnya
postingan ini terbentuk murni tanpa perencanaan. Awalnya gak ada niat buat
tulis dan post cerita kayak gini, Cuma ya gak sengaja aja.
Awalnya
terbentuk pada saat saya dan teman-teman chat di sosmed. Teman saya bingung mau
post apa di blognya, jadi dia minta inspirasi. Lalu katanya setelah nonton satu
video dia dapat ide tentang perbedaan. Dia minta kami sebutin warna favorit
(yang kemudian jadi warna baju yang dipakai para karakter). Harusnya ada 4
orang yang chat, tapi karena si D ntah sibuk apa jadi hanya tersisa A (yang
minta saran), B, dan C (saya sendiri). Beginilah kira-kira isi percakapan kami:
B:
Eeeyyyyy ;)
A:
hey
C:
Yo
A:
Kalian tugas blog bikin postingan apa?
A:
Aku gak ada ide nih
B:
Puisi aja
C:
Aku juga gak ada ide, jadi aku post puisi yang aku buatin untuk surprise bday D
A:
Kalo puisi mah aku yang geli sendiri XD
C:
Kalo bikin cerita nanti kalo membosankan kan sayang
A:
lagi coba-coba bikin cerpennya nih
Kemudian
dia mengirimkan foto ketikannya. Awalnya sedikit aneh karena ceritanya seperti
sedikit dipaksakan. Lalu dia mengganti dengan paragraf pertama ini setelah
menanyakan soal warna-warna pilihan.
C:
Udah bagus kok
C:
Kemudian monsternya boom mendarat di genteng?
B:
Wuisshh ceritanya
A:
haha…ya gak la
Lalu
sejak komentar tentang monster itula saya mulai terus mengetik di group chat
itu. Meski jam sudah menunjukkan pukul 11 dan saya ingin tidur, namun tangan
saya tidak bisa berhenti mengetik meski pun otak tidak dapat berpikir dengan
lancar. Teman-teman saya mengatakan mereka sangat menyukai kalimat-kalimat saya
yang memiliki makna yang dalam (padahal saya sendiri hanya mengetik asal karena
tangan saya tidak bisa berhenti sebelum ceritanya saya akhiri). Entah bagaimana
caranya akhirnya saya dapat menyelesaikannya malam itu juga dan kemudian
memindahkannya ke dalam notes.
Saya
merasa bahwa saya dapat membagikan pemikiran saya melalui tulisan ini. Tapi
saya ragu, apakah ada orang yang mau membacanya? Bukankah mereka akan bosan
duluan sebelum selesai membaca? Apakah mereka dapat memahami apa yang ingin
saya sampaikan? Saat itu saya masih memindahkan apa yang saya catat ke dalam
komputer saya. Karena teman saya bilang untuk di-post saja, saya pikir saya
bisa coba-coba dan melihat postingan apa yang paling cocok untuk blog saya.
Soal
garam, kalau terluka bisa sembuh pake garam juga loh, tapi
harus tahan perihnya. Binatang yang kulitnya berlendir seperti cacing juga
memang bisa mati karena garam. Garam mengganggu sistem pernafasan mereka yang
menggunakan kulit. Info lengkap bisa cek di sini dan di sini
Tulisan
ini murni hasil pemikiran saya (dengan asal muasal karena adanya kegiatan
membuat cerpen oleh teman saya), dan jika ingin berbagi silahkan tapi tolong
berikan kredit. Saya tidak mengubah apa-apa dari yang saya ketik di HP (kecuali
beberapa typo dan kalimat yang tidak diperlukan) sehingga sedikit aneh. Mohon
maaf jika ada kesalahan kata dan lain-lain. Sebagai bonus, saya bagikan apa
yang saya tuliskan sebelum saya menulis bagian aslinya saat berada di group
chat.
…..
Hingga suatu hari sang guru tidak hadir dalam pertemuan mereka. Anak itu terus
menunggu di tempat yang dijanjikan selama sepanjang hari. Ketika malam tiba,
anak itu bangkit dari tempatnya dan berjalan pergi. Dipenuhi firasat buruk ia
pun pergi ke rumah gurunya dan menemukan gurunya terjatuh di lantai dengan
fluida merah mengotori lantai di bawahnya. Ruangan itu sangat berantakan. Meja
dan kursi terlihat patah dan hancir di satu sudut, dan di sudut lain banyak
kaleng pewarna berserakan, serta sebuah kanvas besar yang telah jatuh dari
singgasananya. Sang anak mundur beberapa langkah terkejut melihat keadaan sang
guru yang lemah. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi di sini. Setelah rasa
panik berlalu, anak itu pun merasa sangat jengkel. Ya, sang guru hanya nyengir
kuda dan mengangkat kuas di tangannya seraya menunjuk ke arah sekaleng cat
Nippon Paint warna merah yang telah dibuka secara paksa.
Gak
penting sih tapi temanku bilang masukin aja. Sekian dulu ya untuk hari ini,
jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar ya!
O
ya, kunjungi juga blog teman-teman saya yang pastinya diisi dengan postingan
unik, menarik, dan bermanfaat:
Sampai
jumpa!
No comments:
Post a Comment